Monday, March 21, 2011

Cerita dari Tanah Batak

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.|Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang-kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Begitu sampai di atas gunung, Butet berujar “Wow, Siregar kali hawanya!” katanya, berbeda dengan kampungnya yang Panggabean. Hembusan Perangin-angin pun sepoi-sepoi menyejukkan, sambil diiringi Riama musik dari mulutnya. Sejauh Simarmata memandang warna hijau semuanya. Tidak ada tanah yang Girsang, semuanya Singarimbun.

Tampak di seberang, lautan dan ikan Lumban-lumban. Terbawa suasana,mulanya Butet ingin berenang. Tetapi yang ditemukannya hanyalah bekas kolam Siringo-ringo yang akan di-Hutauruk dengan Tambunan tanah. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir hutan saja, yang suasananya asri, meskipun nggak ada Tiurma melambai kayak di pantai. Sedang asik-asiknya menikmati keindahan alam, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seekor ular yang sangat besar. “Sinaga!” teriaknya ketakutan sambil lari Sitanggang-langgang. Celakanya, dia malah terpeleset dari Tobing sehingga bibirnya Sihombing. Karuan Butet menangis Marpaung-paung lantaran kesakitan. Tetapi dia lantas ingat, bahwa sebagai pendekar pantang untuk menangis. Dia harus Togar. Maka, dengan menguat-nguatkan diri, dia pergi ke tabib setempat untuk melakukan pengobatan.

>Tabib tergopoh-gopoh Simangunsong di pintu untuk menolongnya. Tabib bilang, bibirnya harus di-Panjaitan. “Hm…, biayanya Pangaribuan.” kata sang tabib setelah memeriksa sejenak. “Itu terlalu mahal. Bagaimana kalau Napitupulu saja?” tawar si Butet. “Napitupulu terlalu murah. Pandapotan saya kan kecil”. “Jangan begitulah. Masa’ tidak Siahaan melihat bibir saya Sihombing begini?” Apa saya mesti Sihotang, bayar belakangan? Nggak mau kan? “Baiklah, tapi pakai jarum yang Sitompul saja.” sahut sang mantri agak kesal. “Cepatlah! Aku sudah hampir Munthe. Saragih sedikit tidak apa-apalah”.

Malamnya, ketika sedang asik-asiknya berlatih sambil makan kue Lubis kegemarannya, sayup-sayup dia mendengar lolongan Rajagukguk. Dia Bonar-bonar ketakutan. Apalagi ketika mendengar suara di semak-semak dan tiba-tiba berbunyi “Poltak!” keras sekali. “Ada Situmorang?” tanya Butet sambil memegang tongkat seperti stik Gultom erat-erat untuk menghadapi Sagala kemungkinan. Terdengar suara pelan, “Situmeang“. “Sialan, cuma kucing…” desahnya lega.Padahal dia sudah sempat berpikir yang Silaen-laen.

Selesai berlatih, Butet-pun istirahat. Terkenang dia akan kisah orang tentang Hutabarat di bawah Tobing pada jaman dulu di mana ada Simamora, gajah Purba yang berbulu lebat.

Keesokan harinya, Butet kembali ke Pandapotan silatnya. Di depan ruang ujian dia membaca tulisan: “Harahap tenang! Ada ujian. “Wah telat, emang udah jam Silaban sih”. Maka Siboru-boru dia masuk ke ruangan sambil menyanyi-nyanyi. Di-Tigor-lah dia sama gurunya “Butet, kau jangan ribut! Bikin kacau konsentrasi temanmu! Butet, dengan tanpa Malau-malau langsung Sijabat tangan gurunya, “Nggak Pakpahan guru, sekali-sekali?!”.

Akhirnya, luluslah Butet dan menjadi orang yang disegani karena mengikuti wejangan guru Pandapotan silatnya untuk selalu Simanjuntak gentar dan Sinambela yang benar!

Sekilas Tentang Ulos Batak

Apa yang ada di benak anda apabila mendengar kata Ulos? Bagi sebagian orang mungkin langsung teringat akan kain Batak yang panjangnya sekitar 2 meter, biasa tersampir di bahu, didominasi warna hitam, merah, dan putih dan bertekstur kasar.

Ulos sendiri pada zaman dahulu kala, tepatnya sebelum orang Batak mengenal tekstil buatan luar Batak, digunakan sebagai pakaian sehari – hari, baik kaum pria maupun wanita. Bila dipakai kaum pria menutupi bagian bawah disebut singkot dan disebut tali – tali atau detal bila digunakan sebagai penutup kepala. Sementara bila kaum wanita menggunakan ulos untuk menutupi tubuhnya bagian bawah hingga dada maka disebut baen. Disebut ampe – ampe apabila ulos tersebut digunakan sebagai selendang dan saong bila digunakan sebagai penutup kepala. Selain itu, ulos kala itu juga kerap digunakan sebagai selimut maupun alat menggendong.

Semenjak datangnya pengaruh bangsa barat melalui para misionaris dan Kolonial Belanda, penggunaan ulos dalam keseharian mulai ditinggalkan, termasuk dalam tata cara berbusana, kecuali pada acara – acara tertentu. Pergeseran dalam cara berbusana ini bukan berarti hilangnya peran ulos dalam kehidupan masyarakat Batak. Malah sebagian puak Batak, seperti Toba dan Pak – Pak ulos ditempatkan dalam suatu posisi yang sangat tinggi, serta memiliki makna spiritual.

Pada dasarnya, ulos merupakan hasil peradaban masyarakat Batak dalam kurun waktu tertentu. Sedikit menoleh ke belakang, orang Batak sudah mengenal ulos sejak abad ke-14 selaras dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Panjangnya ulos bisa mencapai sekitar 2 meter dan lebar 70 cm, biasanya ditenun dengan tangan oleh perempuan Batak di bawah kolong rumah. Butuh waktu berminggu – minggu hingga bulanan untuk menyelesaikan ulos, tergantung tingkat kerumitan motif.

Dalam perkembangannya, selain digunakan sebagai pakaian sehari – hari, ulos juga digunakan sebagai perantara pemberi berkat dari seseorang yang dihormati. Oleh karena itu dikalangan orang Batak dikenal dengan istilah ‘mangulosi’ alias memberi ulos. Dalam mangulosi, ada aturan yang tidak boleh dilanggar, yaitu hanya boleh mangulosi mereka yang dalam kekerabatan berada di bawahnya. Misalnya orang tua mangulosi anaknya, tapi anak tidak boleh mangulosi orang tua. Dan saat mangulosi, tidak sembarangan jenis ulos yang dapat diberikan.

Tak dipungkiri memang apabila banyak yang beranggapan bila ulos memiliki struktur yang kaku, berjamur, serta memiliki warna yang monoton dan gelap. Akan tetapi anggapan itu mungkin akan segera berlalu mengingat telah dilakukannya terobosan baru terhadap ulos, yaitu mengganti bahan dasarnya, katun dengan serat selulosa yang berasal dari batang pohon eucalptus. Selain itu, penggunaan warna sintetis untuk pakaian, akibat pengaruh kolonial Belanda pun mulai dialihkan pada pewarnaan alam. Hingga, selain ramah lingkungan, ulos kini juga hadir lebih lembut, mahal namun tetap mencitrakan ciri khas Batak.

Sumber : http://ulosbatakonline.blogspot.com/2009/11/sekilas-ulos.html