Sunday, January 17, 2010

Songket Batak dari Samosir

Tenunan Batak kini maju selangkah. Selain Ulos, kini hadir Songket Batak yang potensinya tak kalah menjanjikan. Meski masih baru, namun Songket yang ditenun di daerah Pangururan, Samosir ini sudah diperkenalkan di kancah nasional. Harapannya, songket ini bisa menjadi pilihan utama orang Batak dalam hal pakaian adat, khususnya pernikahan.

Merdi Sihombing memperkenalkan Songket Batak pertama kali dalam sebuah event fashion show di Jakarta pada tahun 2007 lalu. Ini merupakan sebuah terobosan modernisasi bagaimana agar budaya Batak bisa terangkat.

Friday, January 8, 2010

Mengenal Ulos Batak

[ JENIS DAN TATA CARA PENGGUNAANNYA ]

Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”. Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”. Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli. Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.

DPRD Medan: Segera jalankan Jamkesmas 2010

MEDAN - DPRD Medan meminta kepada Pemko Medan agar program Jamkesmas dapat berjalan dengan baik. Ini dimaksudkan agar program bagi warga miskin ini ditahun 2010 nanti dapat berjalan dengan baik tanpa adanya masalah seperti tahun ini.

Ketua Komisi B DPRD Medan, Irwanto Tampubolon mengatakan, pemko Medan diminta untuk menganggarkan dana untuk warga miskin di Medan yang belum terdaftar dalam program Jamkesmas.

Karena program Jamkesmas untuk saat ini belum sepenuhnya merata di Medan, untuk itu DPRD Medan menargetkan di tahun 2010 nanti semua warga miskin di Kota Medan yang tidak terdaftar jamkesmas semuanya dapat terprogram dan ikut dalam program pemerintah ini.

“Kepada rumah sakit agar melayani pasien miskin yang terdaftar Jamkesmas dengan baik karena itu merupakan tugas dari sebuah rumah sakit,” pungkas Irwanto kepada Waspada Online tadi siang.

http://waspada.co.id/

Saturday, December 5, 2009

Budaya Suku Batak

SEJARAH
Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba sila-silahi (silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi (Pardosi). Masa kejayaan kerajaan Batak dipimpin oleh raja yang bernama. Sultan Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya.

DESKRIPSI LOKASI
Suku bangsa Batak dari Pulau Sumatra Utara. Daerah asal kediaman orang Batak dikenal dengan Daratan Tinggi Karo, Kangkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Toba, Mandailing dan Tapanuli Tengah. Daerah ini dilalui oleh rangkaian Bukit Barisan di daerah Sumatra Utara dan terdapat sebuah danau besar dengan nama Danau Toba yang menjadi orang Batak. Dilihat dari wilayah administrative, mereka mendiami wilayah beberapa Kabupaten atau bagaian dari wilayah Sumatra Utara. Yaitu Kabupaten Karo, Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Asahan.

Sunday, November 30, 2008

Dalihan Natolu System Demokrasi Versi Batak

Dalihan Natolu sebagai system kekerabatan orang batak ternyata mempunyai nilai yang tidak kalah dengan system lain yang sangat populer saat ini, yaitu Demokrasi. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”. Keduanya mengandung arti yang sama, ‘3 POSISI PENTING’ dalam kekerabatan orang Batak yang terdiri dari :