Wednesday, September 7, 2011

MULA NI GORGA BATAK

MANOGARI TAMBUNAN

Dung mardongan saripe Datu Gombut nabolon dohot Siboru Jongjong Anian Siboru Tibal Tudoson, tubu ma buhabajuna, PUSTAHA (Parbinotoan Hadatuon Partungkangon) Anggir, Lada, dohot Napuran. Di urang paduahon, tubu ma muse parhobas tonun dohot Parbinotoan ragi (Sirat, Uhir) dohot rupa ni bonang dohot ulos.
Patolu halihon, ditubuhon ma dakdanak na marporhas sada anak, sada boru, ima: Si Aji Donda Hatahutan dohot Siboru Sopak Nauasan manang: Siboru Sopak Panaluan. Dung magodang dak-danak nadua i, di pasahat Datu Gombut ma tuanakna i boha isara martungkang na taho jala jago, salpu i pe asa dipasahat pustaha, (urang na parjolo) na so tolap binungkana i. Ai ingkon si Aji Donda Hatahutan do naboi mangungkap pustaha i.

Tuesday, May 10, 2011

Seorang bayi telah lahir tanpa tulang di rumah sakit Bogor

Peristiwa yang mungkin cukup langka ini sempat menarik perhatian media cetak lokal. Tak ayal, para wartawan pemburu berita pun segera mendatangi rumah sakit untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut. Di ruang pasien, tampak telah berkumpul keluarga serta sanak famili dari pasien.

Sebelumnya, pihak dokter yang dimintakan pendapatnya, tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan meminta para wartawan untuk menanyakan langsung ke pihak keluarga, kenapa sampai bayi tersebut lahir tanpa tulang.

Para wartawan pun mencoba menanyakan langsung ke pihak keluarga, apa kira-kira yang penyebab kelainan tersebut.

Monday, March 21, 2011

Cerita dari Tanah Batak

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet namanya. Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian Nasution. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang.|Naibaho ikan gurame yang dibakar Sitanggang dengan Batubara membuatnya semakin berselera. Apalagi diberi sambal terasi dan Nababan yang hijau segar. Setelah mengisi perut, Butet melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan ke sana berbukit-bukit. Kadang Nainggolan, kadang-kadang Manurung. Di tepi jalan dilihatnya banyak Pohan. Kebanyakan Pohan Tanjung. Beberapa di antaranya ada yang Simatupang diterjang badai semalam.

Sekilas Tentang Ulos Batak

Apa yang ada di benak anda apabila mendengar kata Ulos? Bagi sebagian orang mungkin langsung teringat akan kain Batak yang panjangnya sekitar 2 meter, biasa tersampir di bahu, didominasi warna hitam, merah, dan putih dan bertekstur kasar.

Ulos sendiri pada zaman dahulu kala, tepatnya sebelum orang Batak mengenal tekstil buatan luar Batak, digunakan sebagai pakaian sehari – hari, baik kaum pria maupun wanita. Bila dipakai kaum pria menutupi bagian bawah disebut singkot dan disebut tali – tali atau detal bila digunakan sebagai penutup kepala. Sementara bila kaum wanita menggunakan ulos untuk menutupi tubuhnya bagian bawah hingga dada maka disebut baen. Disebut ampe – ampe apabila ulos tersebut digunakan sebagai selendang dan saong bila digunakan sebagai penutup kepala. Selain itu, ulos kala itu juga kerap digunakan sebagai selimut maupun alat menggendong.

Wednesday, June 9, 2010

Tradisi Pemakaman Batak

Memperkenalkan tradisi pemakaman dalam adat Batak. Prosesi penguburan dalam suku Batak sangat bermakna dan kompleks. Ada ritual-ritual yang harus dilakukan sebelum jasad orang yang wafat dimakamkan. Yang pertama adalah segera setelah seseorang meninggal, kerabat dan keluarga akan melakukan ritual simbolis denga membalik tikar dimana jasad diletakkan ke luar, sehingga posisi tubuh dan kepala terletak di kaki tikar. Makna dari ritual ini adalah agar begu mengerti bahwa mereka yang telah meninggal harus terpisah dari keluarga dan kerabat. Begu adalah sebutan orang Batak untuk roh dari orang yang meninggal.

Ritual selanjutnya dalam pemakaman adat Batak adalah meletakkan jasad kedalam peti mati. Orang Batak sangat menjaga status sosial seseorang baik ketika ia hidup atau mati. Orang Batak yang kaya raya akan membuat peti mati berbentuk perahu dari kayu pohon kemiri jika ada keluarga yang meninggal. Kemudian, peti mati berbentuk perahu ini diletakkan didekat rumah keluarga sampai waktu upacara pemakaman tiba. Sedangkan orang Batak yang miskin hanya membuat peti mati dari kayu biasa dengan bentuk sederhana.