Sunday, November 30, 2008

Dalihan Natolu System Demokrasi Versi Batak

Dalihan Natolu sebagai system kekerabatan orang batak ternyata mempunyai nilai yang tidak kalah dengan system lain yang sangat populer saat ini, yaitu Demokrasi. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).
Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”. Keduanya mengandung arti yang sama, ‘3 POSISI PENTING’ dalam kekerabatan orang Batak yang terdiri dari :

1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri. Relasinya disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri. “Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya. Dasar utama dari filosofi ini adalah bahwa dari fihak marga istri lah seseorang memperoleh “berkat” yang sangat didominasi oleh peran seorang istri dalam keluarga. Berkat hagabeon berupa garis keturunan, hamoraon karena kemampuan dan kemauan istri dalam mengelola keuangan bahkan tidak jarang lebih ulet dari suaminya, dan dalam hasangapon pun peran itu tidak kurang pentingnya. Somba marhulal-hula supaya dapat berkat.
2. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru Hombing adalah anak perempuan dari marga Sihombing. Prinsip hubungan nya adalah ELEK MARBORU artinya harus dapat merangkul boru/sabar dan tanggap. Dalam kesehariannya, Boru bertugas untuk mendukung/membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula-hula dalam melakukan suatu kegiatan. Sangat diingat oleh filosofi ELEK MARBORU, bahwa kedudukan “di bawah” tidak merupakan garis komando, tetapi harus dengan merangkul mengambil hati dari Boru - nya
3. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga .Prinsip Hubungannya adalah MANAT MARDONGAN TUBU, artinya HATI-HATI menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat.Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut; ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Namun ada beberapa hal negatif dari budaya batak yang harus kita tinggalkan, misalnya budaya banyak bicara sedikit bekerja. Memang orang batak terkenal pintar berbicara. Hal ini terlihat dari banyaknya pengacara-pengacara batak yang sukses. Akan tetapi kepintaran berbicara ini sering disalahgunakan untuk membolak-balikan fakta. Yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam ditangan pengacara batak (walaupun tidak semua). Hal lain yang negatif adalah budaya “HoTeL”. HoTeL adalah singkatan dari: Hosom yang artinya dendam. Konon orang batak suka mendendam sesama saudara. Teal yang artinya sombong, yang dapat terlihat dari cara bicara, sikap hidup, dll. Late yang artinya Iri Hati. Apakah HoTeL ini hanya ada pada orang Batak saja? Kita sebagai generasi muda harus dapat mempertahankan budaya yang positif dan meninggalkan yang negatif.

dikutip dari berbagai sumber.

Wednesday, October 15, 2008

Belawan Semakin Rutin Terendam

Akibat terjadinya perubahan fungsi sebagian besar rawa-rawa menjadi lahan industri, diperkirakan sebagai penyebab rutinnya Kecamatan Belawan terendam air. Kondisi Kota Belawan saat ini tidak luput dari banjir, sedikit saja turun hujan lebat dan saat musim pasang, air menggenangi pemukiman warga dan jalan utama. Kondisi ini berlangsung hingga beberapa hari walau hujan telah berhenti dan musim pasang telah berlalu.

Terendamnya kota pelabuhan kelas utama ini menurut perhitungan warga semakin hari semakin parah, karena air yang menggenangi daerah ini lama keringnya.

Warga Belawan merasa resah karena seluruh aktivitas terganggu. Pemukiman juga menjadi kumuh karena sampah berserekan dan menumpuk bersama genangan air.

Tokoh masyarakat Belawan M. Syafri Sani membenarkan kondisi kota Belawan saat ini seperti itu. Banjir saat ini sudah menjadi hal rutin dialami warga, jalan-jalan utama terendam air sehingga menyulitkan aktivitas sehari-hari, katanya.

Menurut Sani, kondisi ini telah memicu keresahan warga sehingga saat terjadinya pasang besar yang diiringi dengan turunnya hujan deras membuat seluruh masyarakat Belawan bekerja keras menguras air dari rumah.

Kondisi yang menakutkan ini, lanjutnya, terjadi selama satu dekade terakhir diperkirakan terjadi akibat banyaknya lahan rawa-rawa yang selama ini menjadi resapan air telah berubah fungsi, serta menyempitnya dan tersumbatnya saluran air akibat pembangunan rumah.

Menurut perkiraan Sani yang juga ketua harian Forum Masyarakat Belawan Membangun (Formabem), lahan rawa-rawa yang telah berubah fungsi itu mencapai ratusan hektar jumlahnya, lahan itu kini telah berubah fungsi menjadi daratan untuk kepentingan dunia usaha.

Sejak lahan rawa-rawa itu berubah fungsi banyak menimbulkan masalah di antaranya banjir karena di hamparan rawa-rawa yang merupakan lahan terbesar di Kecamatan Belawan itu terdapat banyak anak sungai (paluh) yang berfunsgi sebagai urat nadi keluar masuknya air dari daratan ke tepi laut. (sumber : waspada)

Tuesday, September 23, 2008

Halo Matahari di Atas Kota Medan

Fenomena Alam karena Awan Cyrus

Medan, Kompas - Halo matahari atau sinar di sekeliling lingkaran matahari terjadi di Kota Medan, Senin (22/9) sekitar pukul 11.00 hingga 13.00. Fenomena alam biasa ini muncul sewaktu-waktu saat matahari tertutup awan cyrus. Sinar diterima di Kota Medan redup karena terhalang awan.

Fenomena matahari yang terlihat seperti cincin ini juga memungkinkan terjadinya pelangi karena sinar matahari dibiaskan oleh awan.

”Maka seolah-olah suasana menjadi gelap saat itu,” tutur Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah I Sumatera Utara Ridwar Kamil, Senin.

Awan cyrus sendiri kemarin menaungi hampir seluruh Kota Medan sehingga fenomena alam ini bisa dilihat di seluruh Kota Medan. Ketinggian awan mencapai 20.000 kaki.

”Kebetulan suasananya juga cerah sehingga pelangi bisa terlihat,” kata Ridwar.

Pelangi muncul karena awan cyrus yang lembab dan mengandung air atau es memendarkan sinar matahari dalam tujuh warna pelangi. Ini seperti fenomena masuknya sinar putih dalam prisma kaca yang membiaskan tujuh warna pelangi.

Puncak halo sendiri terjadi saat matahari berada di titik kulminasi (titik paling tinggi) sekitar pukul 12.00. Setelah awan habis, biasanya menguap atau tersingkir oleh angin, matahari akan bersinar seperti biasa.

Sejumlah warga Medan menduga fenomena alam yang terjadi kemarin siang adalah gerhana matahari. Cuaca juga agak gelap karena sinar matahari terhalang awan cyrus yang biasanya tipis. Sementara pelangi muncul di lingkaran halo matahari.

”Tadi muncul pelangi saat ada gerhana matahari,” tutur anggota staf Kantor Pos Medan, M Noeh, yang tak bisa menyembunyikan rasa kagum pada alam.

Fenomena ini memang memunculkan matahari dalam cahaya yang indah. Sejumlah orang keluar rumah untuk menikmati sinar matahari yang indah. Banyak orang memotret suasana itu.

Fenomena serupa banyak terjadi di kota-kota di Indonesia. Beberapa media melaporkan halo matahari terjadi di Bandung pada September 2007, di Jakarta pada Maret 2004, dan di Makassar pada Oktober 2007.

Pada November 2007 dan Januari 2008, halo matahari juga kembali menghiasi langit Kota Jakarta.

Sejumlah pesan singkat masuk ke Redaksi Kompas dan warga mengatakan melihat fenomena alam kemarin siang. Kebanyakan warga menanyakan ada fenomena apa dan menduga terjadi adalah gerhana.

Warga yang memerhatikan langit tak segan berkirim pesan singkat untuk memberitahukan kepada orang lain. Namun, sebagian warga tidak memerhatikan apa yang terjadi dan menduga suasana mendung seperti biasa.

Menurut Ridwar, masyarakat masih ada yang berpikir bahwa fenomena ini menimbulkan penyakit atau mengganggu kesehatan. Ada pula yang menyimpulkan sebagai tanda-tanda bencana.

”Ini fenomena alam biasa yang bisa dijelaskan secara ilmiah,” kata Ridwar.

Pengalaman di beberapa kota itu juga menunjukkan warga yang tidak tahu biasanya menyangka gerhana. Namun, bagi mereka yang paham akan menikmati fenomena alam ini.

Di Bandung, seperti dilaporkan Kompas, pada tahun lalu warga menikmati fenomena alam ini.

Untuk itu, para guru sebaiknya menguasai informasi soal fenomena alam ini sehingga para murid bisa mengerti kejadian tersebut dan menerima penjelasan secara ilmiah sehingga masyarakat tidak kebingungan. (WSI)
taken from : http://cetak.kompas.com

Tuesday, September 16, 2008

Pentingkah Video Conference ?

Tidak ada yang menyangkal kalau kemajuan teknologi saat ini berkembang sangat pesat. Hanya butuh 8 tahun dari millenium perkembangan teknologi kian dapat dirasakan berbagai masyarakat. Kita ambil contoh dunia telekomunikasi. Kita ingat bersama di tahun 2000 orang yang menggunakan HP masih bisa dihitung dengan jari. Tapi sekarang handphone bukan lagi barang mewah yang hanya dapat dipakai oleh orang berduit saja. Ragam handphone lowend dan highend banyak kita jumpai di counter Handphone (Red). Tapi yang kita bicarakan disini bukan mewah atau tidaknya HP tersebut. Kita ingat juga dulu kalau kita ingin menyampaikan pesan singkat kepada kerabat atau teman yang jauh, kita masih menggunakan telegram dan seiring waktu berjalan kita masuk pada jaman pager untuk memberitahukan seseorang menghubungi kita. Nah sekarang dengan mudah kita menekan tombol keypad handphone kita untuk mengirimkan sms bahkan kita bisa mengirimkan sms ke banyak orang dengan teknologi multiple recipient. Begitu juga halnya dengan menelpon kita juga dapat melakukan panggilan ke beberapa orang dengan layanan multiparty calling. Ditunjang dengan biaya telpon yang semakin lama makin murah akibat persaingan provider telekomunikasi yang menguntungkan masyarakat. Nah sekarang kita masuk ke jaman video calling yang memungkinkan kita bisa berkomunikasi langsung dengan lawan bicara kita dengan menggunakan layanan 3G. Walaupun kita harus mengocek dana lebih untuk membeli handphone berfasilitas 3G an 3,5G dan dijaman sekarang dunia internet juga memugkinkan kita menjelajahi dunia maya sebagai kebutuhan hidup yang tidak dapat dipisahkan dari jaman modernisasi tadi. Yang ingin saya angkat disini adalah kecanggihan dunia telekomunikasi jarak jauh yaitu dunia telekomfrence atau bisa disebut teknologi komunikasi audio video visual yang memungkinkan percakapan dua arah bahkan kebih sekarang kecanggihan telecomference sudah dapat dirasakan didaerah terpencil yang sudah dilalui jaringan telepon PTSN (telkom) dan biaya yang relatif murah. Dijaman yang sudah kian canggih seperti ini sepertinya tidak ada alasan setiap pemerintahan atau instansi yang tdak dapat menghadirkan teknologi ini. Dan hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh para anggota dewan yang mempunyai kebiasaan terbang alias pergi keluar daerah. Dengan teknologi teleconference kita bisa mengetahui secara langsung niat apa yang kita inginkan di daeah yang dituju. Contohnya: jika para dewan ingin studi banding masalah pariwisata di daerah Bali, pemerintah daerah bisa mneghubungi pemerintah daerah Bali untuk mempersiapkan materi yang diinginkan tersebut. Kita tau bersama hampir setiap propinsi mempunyai stasiun televisi local. Jadi tidak mungkin daerah tersebut tidak bisa membuat satu film documenter mengenai pariwisata sesuai yang diinginkan costumer. Nah, setelah selesai kemudian bisa diatur waktu untuk melakukan telecomference. Jadi biaya yang digunakan untuk biaya studi banding tersebut bisa dikurangi dan bisa digunakan untuk hal yang lebih berguna daripada harus menhamburkan uang rakyat. Sekaligus kita bisa mengetahui perkembangan era modernisasi alias anggota dewan kita yang terhormat tidak GAPTEK. Sudah seharusnya kita menerapkan era modernisasi positif dilingkungan kita. Buat apa teknologi dibuat kalau kita tidak bisa menerapkannya. Seharusnya pemerintah kita bisa lebih bijak untuk hal studi banding yang menghamburkan uang rakyat. Dengan telecomference segala sesuatunya bisa diwujudkan toh kita bisa melihat langsung lawan bicara kita atau objek yang kita perlukan dengan audio video streaming. Nah, mampukah kita di SULUT menerapkan teknologi komunikasi audio video visual tersebut ? jawabnya ada ditangan kita !!

Wednesday, September 10, 2008

Tapanuli, Perawan Ayu Yang Lagi Berhias

Sekitar 34,92% luas Tapanuli Utara berupa lahan berbukit. Dari ketinggian bukit memandang ke bawah, tampak perkampungan rumah-rumah penduduk yang dipagari pepohonan, di sela-sela hamparan sawah. Tapanuli Utara sarat gunung, lembah dan ngarai menawan.
Jika Anda berangkat dari Medan, maka Anda bisa melalui kota Sibolga menuju kota Tarutung dengan lama tempuh sekitar 2 jam dengan naik mobil.Selain kondisi jalannya baik dan mulus, kita juga dapat menikmati pemandangan kebun karet, kelapa sawit serta hutan-hutan yang ada di sepanjang lereng Bukit Barisan. Selain itu, kota-kota wisata Tapanuli Utara juga memiliki sungai-sungai dan gunung-gunung yang indah.
Dari Desa Hutabarat tampak sungai Situmandi yang mengalir membelah pematang sawah dan perkampungan penduduk. Sungai sepanjang 10 kilometer (km) ini, bermuara ke Samudera Indonesia, 66 km Barat Tarutung. Tampak di Kejauhan Dolok Martimbang, Dolok artinya gunung yang tingginya kurang lebih 1.500 meter.
Di Tapanuli Utara terdapat 7 sungai besar atau Aek, yaitu Sarulla, Sigeaon, Sibundong, Situmandi, Batang Toru, Puli dan Halian. Setiap aek mempunyai fungsi dan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Beberapa sungai punya legenda yang berbau mistis, dan ada pula nyanyian tentang sungai yang digubah oleh komponis Batak.
Bakkara adalah nama desa berlembah di Kecamatan Muara di tepi Danau Toba. Di sini terdapat istana Raja Sisingamangaraja yang dipugar tahun 1992. Makam Raja Sisingamangaraja X dan XI terdapat di kompleks istana ini. Daerah Bakkara pada awal abad ke-20 merupakan pusat kerajaan dari Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII (ditetapkan melalui Surat Keputusan Pemerintah RI No. 590 tanggal 9 November 1961). Raja Sisingamangaraja XII gugur tahun 1907 dalam pertempuran melawan Belanda di kaki gunung Sitapongan dekat Pearaja Tapanuli Utara, dimakamkan di Soposurung, Balige. Memasuki kompleks istana Raja Sisingamangaraja di Bakkara ini dari pintu gerbang tampak bunga Bugenfil Bangkok putih dan tatanan batu-batu kali yang indah menggoda mata.
Anda juga dapat mungunjungi Huta Ginjang yang artinya dataran tinggi. Bentuknya menyerupai bukit cantik, berada 200 meter di atas permukaan air Danau Toba. Anda dapat duduk-duduk di atas bukit ini sambil minum kopi, sekaligus menikmati desir angin sejuk nan sepoi-sepoi.
Anda juga bisa menikmati sumber air panas yang di dalamnya terdapat kandungan belerang dan soda tersebar di beberapa tempat di Tapanuli Utara. Antara lain di Kecamatan Pahae Jae, Dolok Sanggul, Sipoholon dan Pagaran. Lokasi sumber air panas ini sebagian telah dikembangkan dan diolah secara komersial untuk sarana mandi umum.
dikutip dari berbagai sumber

Friday, July 25, 2008

Ini Rock Medan Bung !

JAKARTA, Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung boleh menghasilkan sejumlah penyanyi dan grup kondang saat ini. Namun, jangan lupa, Medan juga pernah melahirkan sejumlah grup musik pop dan rock yang menentukan peta industri musik Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi tokoh industri musik, seperti Erwin Harahap dan Rinto Harahap yang pernah menjadi Ketua Umum Asosiasi Industri Musik Indonesia, dan Rinto kemudian menjabat Ketua Umum Yayasan Karya Cipta Indonesia.
Reynold Panggabean dengan Tarantulla-nya menghasilkan lagu-lagu dangdut dengan musik dangdut “fusion”, campuran rock dan jazz, yang mampu menerobos pasar Jepang, Dharma Purba dengan Rhythm Kings-nya menembus Malaysia, Fadil Usman dan Jelly dengan Minstrel’s-nya, atau Rizaldi Siagian dengan The Great Session-nya merupakan kisah kejayaan musik pop dan rock di Medan akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Bersama The Mercy’s maupun Lollypop, Rinto Harahap menjadi pencetak lagu-lagu populer dan melahirkan sejumlah penyanyi pada tahun 1980-an, yaitu Iis Sugianto, Eddy Silitonga, Diana Nasution, Christine Panjaitan, dan Rinto sendiri sebagai penyanyi dengan lagu-lagu Injit-injit Semut, Ayah, dan lain-lain. Reynold Panggabean yang juga adalah penabuh drum The Mercy’s melejitkan Camelia Malik dengan lagu-lagu dangdut bersama Tarantulla. Sementara Rizaldi Siagian yang menjadi ahli musik Tapanuli dan melakukan sejumlah pertunjukan di mancanegara menghasilkan antara lain rekaman lagu Melayu Grenek bersama Rinto Harahap.
Tentu saja masih banyak pelaku lain, seperti grup Freemen yang terdiri dari penyanyi andalannya Yose Tobing, kemudian Destroyers yang dimotori Guntur Simatupang. Masih ada lagi grup rock The Foxus, Amatuer, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, Black Spades, Bayangkhara Nada, serta grup wanita D’Sys, Dara Kartika, Marati Sister, dan Rhythm Queens. Atau penyanyi Nur Afni Octavia, Nasution Bersaudara, Armiati, Baby Siregar, Erni Tanjung, Kocik Hasibuan, Kanong Hasibuan, Tirza Tamin, Theo Helena, Tati Mardian, David Simatupang, Alfian Nasution, Syam D’lloyd, dan lainnya.
Kejayaan musik rock di Medan ditandai dengan tiga grup yang sangat bersaing, yaitu Rhythm Kings, Minstrel’s, dan The Great Session. Ketiganya tidak hanya bertarung di atas panggung, tetapi juga di media massa dengan komentar-komentar yang memanaskan telinga. Mereka bertemu di satu panggung pada pertengahan tahun 1974 di Wisma Ria, Jalan Gedung Listrik, Medan, yang dijejali ribuan remaja penggemar musik rock.
Bisa dikatakan, waktu itu Medan menjadi barometer bagi grup maupun penyanyi dari luar kota Medan maupun dari Medan sendiri. Yang berhasil menaklukan penonton Medan berarti dengan mudah menjinakkan penonton di tempat lainnya. Penonton Medan cukup adil karena penyanyi atau grup Medan juga tetap diperlakukan sama. Artinya, jika penampilan mereka tidak memuaskan, mereka tetap “dihukum” dengan teriakan “turun” atau bahkan lemparan berbagai benda ke arah panggung.
Sebenarnya penonton yang dikenal kritis adalah di sekitar Medan, seperti Pematang Siantar, Binjai, Tanjung Balai, dan Tebing Tinggi. Nommensen Hall di Pematang Siantar yang mampu menampung 4.000 penonton selalu menjadi pilihan grup maupun penyanyi dari maupun luar kota Medan. Yang lucu di Asahan, grup mana pun kalau membawakan lagu-lagu rock dianggap lagu grand funk. Meskipun yang mereka dengar adalah lagu-lagu Rolling Stones, Led Zeppelin, Beatles, atau bahkan Bee Gees.
Menapaktilasi musik rock di Medan tentu saja tak bisa terlepas dari seorang sensasional bernama Jelly Tobing. Pria kelahiran Semarang, 20 Oktober 1950, ini memulai kariernya lewat grup Mayadewa (1967), C’Blues, Otista (1969) di Jakarta, kemudian pindah ke Medan bergabung dengan grup Minstrel’s. Sepak terjang Jelly sampai sekarang terlihat di acara Blues Night (TVRI) dan atau membawakan lagu-lagu The Beatles bersama grup Berempat. Untuk urusan lagu-lagu The Beatles ini, sebelumnya Jelly pernah bergabung dengan grup Barata bersama Tato, Harry, dan Abadi Soesman.
Sepak terjang Jelly tidak hanya di Jakarta dan Medan. Dia juga sempat bergabung dengan grup rock Bandung, Giant Step, dan kemudian bersama Deddy Dores dan Deddy Stanzah bertrio dalam Superkids didirikan almarhum Denny Sabri, yang bersama majalah musik Aktuil mementaskan grup Deep Purple tahun 1976 di Stadion Utama, Jakarta.
Yang mengajak Jelly ke Medan pada pertengahan tahun 1973 adalah Fadil Usman, adik kandung penyanyi Ivo Nilakresna. Maka, lahirlah grup Minstrel’s akhir tahun 1973 dengan Jelly Tobing sebagai drumer dan penyanyi, Fadil Usman (gitar), Kris Hutabarat (saksofon, penyanyi), Iqbal Mustafa (keyboard), dan Mamad (bas, penyanyi). Ketika itu sudah ada grup Rhythm Kings yang berdiri tahun 1967 dipimpin Darmawan Purba (gitar), kemudian pada saksofon Darma Purba, Raja Muda (keyboard), Darmawi Purba (bas), dan Yahya (drum).
Grup yang mengandalkan vokalnya pada trio Darma, Darmawan, dan Darmawi ini pada tahun 1972 sudah menghasilkan rekaman lagu-lagu pop, seperti Kasih Bersemi, Permohonanku, Kisah Asmara, Sepatah Kata, dan Permohonan Terakhir. Pada awal tahun 1970-an, lagu rock berlirik bahasa Indonesia baru ditemukan lewat rekaman grup Bandung, Giant Step. Sayang, rekaman ini bergeming di pasar sehingga grup rock lainnya hanya bersedia diproduksi sebuah perusahaan rekaman jika merekam lagu-lagu sweet atau pop. Rhythm Kings termasuk yang paling banyak menghasilkan album rekaman dibandingkan dengan dua saingan beratnya. Dalam usianya yang ke delapan pada tahun 1975, grup ini telah menghasilkan tujuh album termasuk satu album lagu Batak Karo.
Padahal, di atas panggung Rhythm Kings yang mula-mula menggandalkan lagu-lagu hard rock setelah masuk dapur rekaman ternyata lagu-lagu sweet mereka yang berirama melayu juga disukai penonton. Meskipun melakukan hal yang sama dalam rekaman, Minstrel’s dan The Great Session tetap membawakan lagu- lagu hard rock dari Grand Funk Railroad, Iron Butterfly, Rolling Stones, The Beatles, Deep Purple, Emerson Lake and Palmer, Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Jimi Hendrix. Fadil Usman bisa dikatakan yang pertama membawakan lagu- lagu Jimi Hendrix bersama Minstrel’snya.
Dengan berdirinya Minstrel’s hadirlah saingan berat Rhythm King dan The Great Session. Rizaldi Siagian yang merupakan drumer terbaik di Medan, begitu Jelly Tobing datang, keduanya berusaha saling mengalahkan. Pertemuan ketiga grup itu di atas panggung di Wisma Ria melibatkan persaingan sesama teknisi dan penonton. Kabel sound system bisa ditemukan putus sehingga gitar atau suara penyanyi tidak kedengaran. Sementara penonton berkelahi karena saling mengejek grup saingan dan menjagokan grup kesayangan mereka.
Selain ketiga grup itu, yang tidak kalah memukau adalah kiprah Guntur Simatupang dari Destroyers dan Yose Tobing dari Freemen, dengan aksi mereka di atas panggung. Yose, misalnya, bisa menyanyi sambil berguling, melompat, dan berlari, seperti yang dilakukan Ucok Harahap dari AKA Surabaya. Guntur pernah membawa 40 ular yang ditangkapnya sendiri ke atas panggung yang mengingatkan pada Mickey Makelbach dari grup Bentoel Malang yang membantai kelinci sambil menyanyi. Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper Medan.
Persaingan grup rock Medan dapat juga dilihat dari jor-joran peralatan musik dan sound system. Setelah AKA dan God Bless tampil dengan peralatan yang termasuk luar biasa waktu itu, grup rock Medan juga tidak mau kalah. Bos Freemen, John Leo, yang lebih dikenal dengan sebutan Ta Long dan mahir mengutak- atik peralatan listrik, meningkatkan kekuatan sound system grup asuhannya sehingga. Akibatnya, ketika Freemen manggung, suara musiknya menggelegar, membuat ciut nyali grup saingannya.
Namun, ketika Rhythm Kings juga menambah gelegar peralatan musiknya justru Freemen yang tenggelam. Tentu saja The Great Session dan Minstrel’s juga tak tinggal diam dalam perlombaan meningkatkan kekuatan infrastruktur panggung. Dengan penambahan kekuatan peralatan suara ini, grup-grup musik itu mulai tampil di arena terbuka Taman Ria. Pada awal tahun 1976 itu, Rhythm Kings, The Great Session, dan Minstrel’s dibayar paling besar. Untuk satu jam manggung mereka masing-masing dibayar Rp 60.000.
Yang lain, seperti D’Sys, Destroyers, Vulture’s, Adventurer’s, dan Exorcist memperoleh honor Rp 35.000-Rp 50.000. Grup dangdut Rp 25.000 dan vokal grup dengan gitar akustik Rp 15.000. Tentu saja bayaran yang diterima grup musik Medan itu jauh dibandingkan dengan rekannya di Jakarta yang sudah menerima ratusan ribu rupiah untuk satu kali manggung. Namun, bagi Rhythm Kings, Minstrel’s, dan The Great Session tidak masalah karena dalam satu minggu mereka bisa manggung dua hingga tiga kali.
Dinamika pertunjukan panggung di Medan ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari peran para promotor, seperti Indra dengan Indra Entertainmentnya, yang sukses menggelar pertunjukan AKA. Demikian juga Nyonya Syahniar Syahbudin, bos Minstrel’s, juga merupakan penyelenggara berbagai pertunjukan musik yang konon tak pernah rugi. Nyonya yang gesit ini akrab dengan pers. Jadi, tak heran jika berbagai kegiatannya selalu masuk koran, yang waktu itu merupakan “kompor” persaingan sesama grup musik.
Tentu saja masih ada promotor yang lain seperti Bung Napit, Taruna Said dari Waspada Entertainment yang didukung koran terkemuka Medan, Waspada, yang mendatangkan God Bless. Kemudian Johnny Pardede, yang pernah tinggal beberapa tahun di London, mengisyaratkan akan membawa Rolling Stones ke Medan meskipun tak pernah terwujud. Nama lainnya adalah Arifin Perak dari Pangkalan Brandan dan Toto Dainang dari NV Dainang, perusahaan yang memproduksi minuman RC Cola.
Semaraknya Medan sebagai ajang berbagai pertunjukan musik juga tak terlepas dari kegiatan pertunjukan yang diselenggarakan panitia dari Jakarta. Pesta Musik yang disponsori majalah musik Aktuil tanggal 4 Mei 1975 di Lapangan Medeka Medan diundur hingga seminggu karena hampir bersamaan waktunya diselenggarakan Festival Film Indonesia 1975 yang menjadikan Senyum di Pagi Bulan Desember sebagai film terbaik. Sementara Teguh Karya (sutradara), Tanti Josepha (aktris), dan Slamet Raharjo (aktor) memperoleh Piala Citra, juga sebagai yang terbaik.
Namun, menjelang akhir tahun 1970-an, segala kesemarakan itu menyurut. Bukan saja banyaknya pemusik Medan yang hijrah ke Jakarta, pertumbuhan penyanyi dan grup baru nyaris tidak terlihat. The Mercy’s yang sukses besar di Jakarta enggan kembali ke Medan. Purba bersaudara (Darma, Darmawi, dan Darmawan) lebih memilih sekolah, mereka kemudian menjadi dokter gigi, dokter mata, dan dokter THT. Begitu juga Rizaldi Siagian menekuni studinya hingga menjadi dokter musik. Akibatnya, Rhythm Kings dan The Great Session mengurangi kegiatan untuk akhirnya bubar.
Begitu juga anggota Minstrel’s, seperti Fadil Usman dan Jelly Tobing, memilih tinggal di Ibu Kota ketimbang Medan setelah grupnya tak bisa lagi dipertahankan. Fadil Usman mendirikan grup rock Brotherhood, tetapi tidak bertahan lama. Tahun 1979 dia bergabung dengan Reynold Panggabean dan Camelia Malik sebagai gitaris Tarantulla, petikan gitarnya dominan dalam lagu-lagu Colak Colek, Wakuncar, Gengsi Dong, Aduhai, dan lainnya, yang kemudian populer lagi dibawakan kembali si ratu ngebor Inul Daratista tahun 2003.
Jelly Tobing meneruskan sensasinya. Antara lain dengan melakukan solo drum selama 10 jam nonstop di Ancol, 1 Oktober 1988, dan lapangan sepak bola Persija, Menteng, 29 Juli 1990. Pada tahun 2002, Jelly bahkan sempat menjadi drumer tamu Rhythm Kings dalam sebuah acara reuni grup itu di Medan. Persaingan di masa lalu yang menjurus pada perseteruan tampaknya sudah dilupakan.
Jelly yang kalau dihitung-hitung pernah masuk-keluar sekitar 30 grup musik, kabarnya juga akan mengaktifkan kembali trio Superkids, dengan mengajak serta pemetik gitar bas grup Rollies, Utje F Tekol, sebagai pengganti almarhum Deddy Stanzah. Bahkan, Jelly juga berencana mengganti kedudukan Syech Abidin sebagai penabuh drum dalam reuni AKA bersama Ucok Harahap, Sunatha Tanjung, dan Arthur Kaunang di Surabaya Februari 2005. Di kota buaya ini, Jelly pernah disengat listrik sampai pingsan ketika manggung 20 tahun lalu.
Ketika grup heavy metal Megadeth manggung di Stadion Teladan Medan, 31 Juli 2001, denyut musik rock Medan masih belum terasa. Bukan saja peralatan musik 120.000 watt, lampu 300.000 watt, dan panggung berukuran 18 x 12 x 2 meter yang didatangkan dari Jakarta, sebagai pembuka pementasan Megadeth mestinya grup rock Medanlah yang hadir waktu itu bukan Boomerang.
Promotor Medan yang menonjol saat ini, Ayun Mahrusar, dari C’Blonk Entertaiment menyatakan, Medan sebenarnya tak tinggal diam. Bahkan, Medan sedang berusaha bangkit dan mengikuti jejak Surabaya, Bandung, atau Yogyakarta yang melahirkan grup-grup kondang seperti Padi, Dewa, Jamrud, atau Sheila on 7. Ini rock Medan, Bung! Siapa tahu menggelegar lagi seperti 30 tahun silam. ( Oleh: Theodore KS/ Kompas).

dikutip dari : http://www.batakmusic.com/?p=7


Sunday, February 24, 2008

Ame Sang Wrote....

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Wednesday, February 6, 2008

Love is .....

Love is
being happy for the other person
when they are happy
being sad for the other person when they are
being together in good times
and being together in bad times
Love is the source of strength
being honest with yourself at all times
being honest with the other person at all times
telling, listening, respecting the truth
and never pretending
Love is the source of reality

Love is
an understanding that is so complete that
you feel as if you are a part of the other person
accepting the other person just the way they are
and not trying to change them to be something else
Love is the source of unity

Love is
the freedom to pursue your own desires
while sharing your experiences with the other person
the growth of one individual alongside of
and together with the growth of another individual
Love is the source of success

Love is
the excitement of planning things together
the excitement of doing things together
Love is the source of the future

Love is
the fury of the storm
the calm of the rainbow
Love is the source of passion

Love is
giving and taking in a daily situation
being patient with each other's needs and desires
Love is the source of sharing

Love is
knowing that the other person
will always be with you regardless of what happens
missing the other person when they are away
but remaining near in heart at all times
Love is the source of security

Love is the
source of life

taken from : http://bima.ipb.ac.id/~anita/poem_love_is.